Bidang Praktik
Reservasi Konsultasi

2024-05-31
![[칼럼] 크리스마스의 추억](/_next/image?url=https%3A%2F%2Fd1tgonli21s4df.cloudfront.net%2Fupload%2Fboard%2Fbroadcast%2F20240531063315196.jpg&w=3840&q=100)
Pada tahun 1987 ketika aku berusia 6 tahun, aku pertama kali pergi ke taman kanak-kanak dengan digandeng tangan ibu. Nama persis taman kanak-kanak yang kudatangi saat itu adalah “TK Saemaeul”, yang biayanya lebih murah dibandingkan tempat lain berkat subsidi pemerintah, dan satu-satunya di lingkungan itu yang menyelenggarakan kelas sehari penuh (dari pukul 9 pagi hingga 6 sore).
Karena saat itu ibu bekerja sebagai ‘ibu asuransi ○○ Life’ (dalam istilah sekarang, agen asuransi) dan tidak ada orang yang dapat menjagaku secara terpisah, hingga usia 5 tahun ibu membawaku ke tempat kerja (sehingga aku ikut menggandeng tangan ibu berkeliling berbagai penjuru Seoul dan Gyeonggi untuk menawarkan asuransi kepada kenalannya), lalu ketika berusia 6 tahun dan sudah bisa masuk kelas sehari penuh, ibu memasukkanku ke sana.
Sekitar pukul setengah sembilan pagi, jika aku naik bus antar-jemput TK di depan rumah, bus berkeliling seluruh lingkungan menjemput anak-anak dan tiba di TK sekitar pukul 9; aku menyantap camilan dan makan siang di TK, tidur siang, bermain sepanjang hari, lalu ibu menjemputku sepulang kerja menjelang sore. Begitulah keseharianku.
Ada satu kenangan yang selalu terlintas setiap Natal, dan ini adalah hal yang hingga kini kerap dikatakan ibu bahwa ia merasa bersalah kepadaku.
Entah tanggal 23 atau 24 Desember, saat itu TK mengadakan acara Natal, hari yang diisi anak-anak dengan bermain drama, berpidato, dan bermain permainan bersama orang tua. Hari itu pun seperti biasa ibu berangkat kerja lalu tiba di TK menjelang akhir acara, dan katanya semua ibu dari anak-anak lain masing-masing membawa satu hadiah yang telah dibungkus. Maka ibu berkata kepada ibu anak lain, “Aduh, rupanya TK menyiapkan hadiah untuk anak-anak juga ya? Terima kasih banyak,” dan ibu anak yang ditanya itu terkejut lalu menjawab, “Ah, Ibu Yeong-min belum menerima kabar ya? Hari ini para ibu diminta menyiapkan hadiah untuk dibagikan kepada anak-anak. Mungkin karena sibuk urusan kantor, Ibu tidak menerima pemberitahuannya.”
Jadi, jika orang tua membawa hadiah yang telah dibungkus untuk anaknya masing-masing, pada acara terakhir seorang paman sopir bus antar-jemput yang berdandan sebagai Sinterklas akan membagikan hadiah itu. Saat itu belum ada buku pemberitahuan daring seperti sekarang; pemberitahuan hanya disampaikan dari mulut ke mulut antar-ibu atau ditulis di buku pemberitahuan kertas dari TK, sehingga ibu terlewat begitu saja.
Maka ibu bergegas ke supermarket di lantai 1 gedung TK, membeli sekantong camilan yang pertama teraih, lalu membungkusnya di toko alat tulis sebelah, dan berhasil menyerahkannya tepat waktu... Akhirnya tiba saat hadiah dari Sinterklas yang dinanti-nanti.
Ketika teman-teman satu per satu menerima hadiah dan membuka bungkusnya dengan gembira, keluarlah berturut-turut hadiah yang benar-benar diinginkan anak-anak, seperti set robot gabungan King Lion yang sedang tren saat itu, set hadiah Lego, set hadiah Playmobil, dan set mainan dapur putri, sehingga semua bersorak kegirangan.
Akhirnya tiba giliranku.
Sinterklas memberiku hadiah sambil berkata aku anak baik, tetapi bentuknya sudah berbeda dari milik teman-teman. Hadiah teman-teman terbungkus kertas kemasan mewah dalam kotak besar dan diikat pita, sedangkan milikku kecil dan kusut. Meski begitu, dengan penuh harap aku membuka bungkusnya dengan gembira, dan… astaga. Sekantong ‘permen Scotch’ yang biasa kumakan namun sama sekali tak kuharapkan sebagai hadiah Natal itulah ternyata hadiahku.
Saat itu ibu mengamati ekspresiku, dan katanya meski aku hanya anak kecil berusia 6 tahun, raut kecewa di wajahku begitu jelas. Sambil melihat teman-teman lain, betapa terpancar rasa iri dan kecewa di wajahku... Sambil berjalan bergandengan tangan pada malam musim dingin yang langitnya penuh bintang berkelip, ibu bertanya kepadaku.
“Hadiah yang kamu inginkan tidak keluar ya? Sebentar lagi Sinterklas pasti akan memberi yang lebih bagus.”
“Iya. Tapi aku juga suka yang ini.”
Rasanya tidak mungkin aku yang anak durhaka ini berkata begitu saat itu, tetapi menurut ingatan ibu, aku memang jelas berkata demikian. Karena itu, katanya bahkan setelah aku marah saat remaja sambil berkata ‘entah dari mana makhluk seperti itu keluar dari perutku’, begitu ia teringat peristiwa Natal di atas, amarahnya langsung reda. Katanya, bagaimanapun juga aku memang malaikat.
Bagaimanapun, beberapa hari setelah peristiwa itu, aku kembali menerima hadiah ‘walkie-talkie pedang cahaya Jedi’ yang paling populer saat itu, konon diletakkan lagi oleh Sinterklas semalaman. Dan aku ingat naik ke atas selimut di sudut-sudut lemari dan asyik bermain walkie-talkie bersama ayah.
Tanggal 23 Desember tahun lalu, 35 tahun sejak saat itu. Ada acara Natal di tempat penitipan anak putriku, Dawon, yang kini berusia 3 tahun. Sama seperti ketika aku kecil, ada acara penyerahan hadiah yang disiapkan oleh masing-masing orang tua...
Saat menyiapkan hadiah, aku berpesan kepada istriku, ‘jangan menyiapkan yang terlalu besar, dan meski menerima hadiah, jangan membuka bungkusnya untuk memeriksanya di tempat’. Itu kukatakan agar tidak ada anak yang kecewa karena orang tuanya sibuk sehingga tidak sempat menyiapkan hadiah, atau karena melihat hadiah yang lebih bagus daripada miliknya.
Untunglah kekhawatiranku di atas hanyalah kecemasan berlebihan. Katanya, pada acara Natal penitipan anak Dawon, seluruh wali anak hadir untuk saling memberi hadiah, dan anak-anak tidak membuka hadiah di tempat melainkan memeriksanya sepulang ke rumah. Mungkinkah itu perhatian dari penitipan anak untuk mencegah rasa kecewa yang kualami sewaktu kecil?
Hadiah Natal Dawon kali ini adalah ‘set mainan dokter-dokteran Kongkongi’. Dan pada malam Natal, ada pula waktu ketika nenek, kakek, dan bibi dari pihak ibu semuanya berkumpul untuk membagikan hadiah tersendiri.
Ayah dan ibuku yang kini hampir berusia 80 tahun tidak dapat ikut hadir karena batuk pilek berat yang dicurigai COVID, sehingga hanya melakukan panggilan video; namun luka di hati ibu yang menatap tingkah menggemaskan cucunya dari seberang telepon kini tampak sudah sembuh sepenuhnya. Cinta orang tua kepada anak tak berujung, dan kenyataan bahwa ibu kini tak perlu lagi merasa bersalah kepadaku, bersama kenangan manis permen Scotch, menjadikannya Natal yang lebih bahagia daripada kapan pun.
[Baca artikel selengkapnya] - [Esai] Kenangan Natal (kunjungi)
Semua bidang Sekilas pandang
1/0
Reservasi Konsultasi Kunjungan
Jika ada masalah hukum, konsultasikan dengan pengacara spesialis Litigasi yang melibatkan warga asing di kantor terdekat