Bidang Praktik
Reservasi Konsultasi

2025-02-14

Pemilihan Ketua Asosiasi Pengacara Korea ke-53 yang berlangsung sengit berakhir pada tanggal 20 bulan lalu. Meskipun berbagai agenda diperbincangkan, isu terbesar dalam pemilihan kali ini adalah firma hukum jaringan (network law firm). Kendati ada perbedaan pendapat rinci mengenai caranya, suara para kandidat bahwa firma hukum jaringan harus diatur secara aktif seluruhnya sama.
Penulis pun beberapa kali menerima pertanyaan tentang firma hukum jaringan dari berbagai pihak, seperti pengacara dan wartawan. Pada saat seperti itu, penulis selalu menyampaikan pendirian, “Apabila rancangan regulasi tersebut tidak bertentangan dengan konstitusi dan nilai-nilai pasar bebas, serta berkontribusi pada peningkatan hak masyarakat untuk tahu dan perluasan serta perkembangan pasar hukum, maka tidak ada alasan untuk menolak rencana apa pun.”
Namun, ada kebutuhan untuk merenungkan secara mendalam hakikat rancangan regulasi yang disebutkan masing-masing kandidat. Penulis berpandangan bahwa tujuan rancangan regulasi terletak pada ‘peningkatan hak dan kepentingan masyarakat’ serta ‘pertumbuhan yang sehat kalangan hukum’. Penulis percaya bahwa rancangan regulasi semacam ini lahir dari harapan agar pasar hukum dalam negeri memiliki daya saing yang lebih tinggi dan agar layanan hukum bermutu tinggi dapat diberikan kepada masyarakat.
Apabila demikian pemikiran para kandidat yang ingin menjadi pemimpin yang mewakili lebih dari 35.000 pengacara, kalangan hukum kita kini harus menyatukan tenaga dan melangkah lebih jauh. Selain pengaturan terhadap sebagian firma hukum jaringan yang menjalankan cara operasi ilegal, perlu pula memberikan perhatian pada pembersihan praktik buruk mengakar yang telah lama bercokol di kalangan hukum.
Sebagai salah satu praktik buruk yang harus lenyap dari pasar hukum dalam negeri, penulis ingin menyebut ‘calo hukum’. Kegiatan calo hukum umumnya bermula dari ‘penyamaran sebagai kepala kantor (samujang)’. Ia memperkenalkan diri sebagai kepala kantor, mendekati klien dan pengacara, lalu mengambil komisi sebagai imbalan atas perantaraan perkara. Hingga sekitar 10 tahun lalu, calo hukum semacam ini dianggap sebagai masalah sosial yang sangat serius. Bahkan dipublikasikan statistik bahwa dari 10.725 kasus penyimpangan hukum yang terjadi sejak 2011 hingga paruh pertama 2014, hampir separuhnya, yaitu 5.353 kasus, merupakan kasus calo perkara perdata dan pidana, sehingga keseriusannya tidak perlu dijelaskan lagi. Karena itu, pengadilan, Kejaksaan Korea Selatan, dan organisasi pengacara bahkan sempat bersama-sama membentuk task force (TF) untuk menanggapi pemberantasan calo hukum.
Namun, belakangan muncul konsep lain. Yaitu ‘komite ahli’ dan ‘komite penasihat’ yang merupakan nonpengacara mantan polisi purnatugas. Mereka dikenal terutama menjalankan peran penasihat dalam perkara pidana. Persoalannya, sebagian dari mereka tidak hanya memberi nasihat, tetapi juga berupaya campur tangan secara tidak wajar dalam proses penyidikan untuk menggunakan pengaruhnya. Karena calo hukum seperti ini beraktivitas di bawah permukaan hanya dengan mengganti sebutannya, masyarakat pun turut memikul beban ganda berupa beban ekonomi dan ketidakpercayaan pada peradilan.
Firma Hukum Daeryun (Perseroan Terbatas) tempat penulis bernaung selama ini menjalankan kegiatan pembersihan diri untuk memberantas calo hukum. Intinya adalah mengedukasi anggota internal tentang sifat ilegal calo hukum dan secara aktif mendorong pelaporan. Tentu benar pula bahwa upaya satu firma hukum saja memiliki keterbatasan untuk mencabut hingga ke akar penyakit yang telah meresap ke seluruh industri.
Untunglah, belakangan aparat penyidik menunjukkan kemauan menyidik yang lebih aktif terhadap calo hukum. Pada Juli tahun lalu, Kejaksaan Distrik Ulsan berhasil membongkar dugaan persekongkolan antara komite ahli firma hukum yang merupakan mantan komisaris besar polisi (chonggyeong) dan calo hukum, lalu menuntutnya dengan penahanan. Komite ahli yang bermasalah itu dikabarkan menggunakan tekanan langsung maupun tidak langsung terhadap tim penyidik kepolisian.
Seperti ini, di kalangan hukum negara kita masih menumpuk tugas-tugas yang harus diselesaikan. Penulis tidak meragukan bahwa pemilihan Ketua Asosiasi Pengacara kali ini akan menjadi pemantik perubahan baru. Penulis berharap agar Ketua Asosiasi Pengacara dan jajaran pengurus baru yang dilantik pada tanggal 24 bulan ini tidak hanya menyelesaikan tugas-tugas baru, tetapi juga mencurahkan upaya untuk membersihkan kebiasaan buruk yang ada, sehingga tercipta pasar hukum yang lebih sehat. Daeryun pun telah siap tampil di garda terdepan melebihi siapa pun.
Pengacara Perwakilan Firma Hukum Daeryun (Perseroan Terbatas) Park Dong-il
[Baca artikel selengkapnya]
Firma hukum jaringan dan calo hukum···“Pembersihan calo hukum, Asosiasi Pengacara harus tampil di depan” (kunjungi)
Semua bidang Sekilas pandang
1/0
Reservasi Konsultasi Kunjungan
Jika ada masalah hukum, konsultasikan dengan pengacara spesialis Litigasi yang melibatkan warga asing di kantor terdekat