Bidang Praktik
Reservasi Konsultasi

2025-04-22

Presiden Trump pada tanggal 2 lalu mengumumkan kebijakan pengenaan tarif timbal balik terhadap negara-negara yang menimbulkan defisit perdagangan. Rasio tarif timbal balik per negara diumumkan ditetapkan dengan mempertimbangkan selisih tarif atas barang buatan AS, manipulasi nilai tukar, izin yang tidak perlu, karantina, dan hambatan perdagangan nontarif lain, tetapi secara nyata diperkirakan defisit perdagangan AS dan nilai impor negara lawan berperan sebagai standar penting.
Selain itu, Presiden Trump juga menyatakan akan mencabut fasilitas bebas pajak atas paket bernilai kecil dari Tiongkok dan Hong Kong. Sebelumnya, pada awal Februari ia sudah sekali mengumumkan penghapusan fasilitas bebas pajak dengan alasan masuknya fentanil ke AS, tetapi saat itu membatalkannya keesokan harinya dengan alasan kekacauan pekerjaan lapangan. Kebijakan pencabutan fasilitas bebas pajak atas paket bernilai kecil dari Tiongkok dan Hong Kong yang akhirnya diumumkan kembali secara final akan diterapkan mulai 2 Mei mendatang.
Objeknya adalah barang bernilai 800 dolar ke bawah yang diproduksi di Tiongkok dan Hong Kong lalu dikirim ke AS, dan tarif dikenakan 120% berdasarkan nilai barang. Dari 2 Mei hingga 31 Mei mendatang dikenakan biaya 100 dolar per kiriman, dan mulai 1 Juni 200 dolar per kiriman. Pengangkut harus memiliki jaminan di atas tingkat tertentu untuk menjamin pembayaran pajak dan biaya. Selain itu, perlu menyerahkan informasi dan bukti terkait kiriman pos sesuai cara yang ditetapkan Badan Perlindungan Bea Cukai dan Perbatasan AS (CBP).
Saat ini jumlah paket bernilai kecil yang bebas pajak di AS diperkirakan sekitar 4 juta per hari per data 2024. Bila dihitung per tahun sekitar 1,4 miliar, dan 60% di antaranya tercatat berasal dari Tiongkok. Karena itu, dampak penghapusan sistem bebas pajak bernilai kecil barang buatan Tiongkok terhadap konsumen AS diperkirakan besar.
Selain AS, negara-negara utama seperti Korea, Jepang, dan Uni Eropa juga mempertimbangkan penghapusan sistem bebas pajak barang bernilai kecil, karena barang buatan Tiongkok murah masuk deras ke negara masing-masing dengan menerima sistem bebas pajak bernilai kecil sehingga mengacaukan pasar.
Bila melihat sistem bebas pajak bernilai kecil negara utama, batas bebas pajak AS 800 dolar, Korea 150 dolar (pemberesan kepabeanan berbasis daftar dari AS 200 dolar), Jepang 10.000 yen, dan Uni Eropa 150 euro, sehingga terlihat batas bebas pajak AS lebih tinggi dibanding negara lain.
Batas bebas pajak bernilai kecil AS semula 200 dolar, tetapi dilonggarkan hingga 800 dolar berdasarkan 2016. Setelah itu, pada masa pandemi Covid-19 perdagangan elektronik tumbuh pesat sehingga masalah seperti peningkatan penyelundupan narkoba melalui paket bernilai kecil dan memburuknya defisit dengan Tiongkok membesar, dan karena itu saat itu di dalam AS pun sempat muncul gerakan menghapus sistem bebas pajak bernilai kecil. Akhirnya pemerintahan Trump periode kedua mengumumkan penghapusan sistem bebas pajak paket bernilai kecil produk dari Tiongkok dan Hong Kong.
Seiring pasar diacaukan akibat masuknya barang buatan Tiongkok murah secara deras, Uni Eropa pun sejak Juli 2021 membebaskan tarif atas barang bernilai kecil tetapi mengenakan pajak pertambahan nilai. Mulai Maret 2028 tarif akan dikenakan pula pada barang bernilai kecil di bawah 150 euro, sehingga pada akhirnya sistem bebas pajak barang bernilai kecil tampaknya akan dihapus.
Untuk Korea, pada masa pandemi Covid-19 pasar perdagangan elektronik tumbuh pesat sehingga ekspansi perusahaan e-commerce Tiongkok seperti AliExpress, Shein, dan Temu ke Korea pun makin aktif. Namun, dibanding barang buatan Tiongkok yang menerima fasilitas seperti pembebasan pajak bea dan pertambahan nilai serta sertifikasi KC melalui sistem bebas pajak bernilai kecil, pelaku usaha dalam negeri tidak dapat menerapkan bebas pajak bernilai kecil pada barang untuk dijual sehingga harus membayar pajak bea dan pertambahan nilai atas seluruh barang impor dan memperoleh sertifikasi KC terkait, sehingga diskriminasi terbalik menjadi masalah.
Seiring Presiden Trump mencabut fasilitas bebas pajak atas paket bernilai kecil dari Tiongkok dan Hong Kong, kemungkinan perusahaan e-commerce Tiongkok yang terpukul di pasar AS menggarap pasar Korea, bahkan dengan mendumping harga barang, meningkat. Selain itu, karena rasio tarif timbal balik Korea sangat rendah dibanding Tiongkok, ada risiko barang buatan Tiongkok masuk dalam jumlah besar ke dalam negeri untuk diekspor ulang secara memutar ke AS.
Karena itu, kebijakan dukungan yang dapat melindungi industri manufaktur dalam negeri yang mau tak mau kalah dalam persaingan harga dengan produk Tiongkok sangat diperlukan. Selain itu, pembenahan sistem yang tepat pun tampaknya diperlukan agar maksud awal sistem bebas pajak barang bernilai kecil, yaitu peningkatan kenyamanan hidup rakyat, dapat dihidupkan kembali.
Tim Usaha Kecil dan Menengah
[Baca artikel selengkapnya]
Kekhawatiran kerugian industri dalam negeri akibat penghapusan bebas pajak bernilai kecil produk Tiongkok oleh AS (kunjungi tautan)
Semua bidang Sekilas pandang
1/0
Reservasi Konsultasi Kunjungan
Jika ada masalah hukum, konsultasikan dengan pengacara spesialis Litigasi yang melibatkan warga asing di kantor terdekat