
2025-05-30
![[기고] 도입 취지 퇴색된 로스쿨, 법조인 양성 제도 전면 개편해야](/_next/image?url=https%3A%2F%2Fd1tgonli21s4df.cloudfront.net%2Fupload%2Fboard%2Fbroadcast%2F20250530080720704.webp&w=3840&q=100)
Dahulu, ujian kehakiman merupakan 'gerbang masuk' representatif masyarakat kita. Sebabnya, tanpa latar belakang khusus pun seseorang dapat memasuki jalan menjadi ahli hukum hanya dengan kemampuan semata. Sistem ini tidak sempurna, tetapi setidaknya ada masa ketika ia mewujudkan ungkapan "naga lahir dari selokan."
Sudah 17 tahun berlalu sejak sistem sekolah tinggi hukum (law school) diperkenalkan. Kala itu, sistem ini diluncurkan dengan tujuan menghapus masalah 'pengembara ujian' dan mencetak ahli hukum yang memiliki kecakapan praktik dan keberagaman. Penulis pun termasuk salah satu orang yang menilai positif penghapusan ujian kehakiman. Sebabnya, kesadaran akan masalah lingkungan ujian yang tidak realistis dan cara seleksi bakat yang tidak efisien sudah jelas, dan penulis pun benar-benar merasakan perlunya reformasi sistem.
Namun, seiring berjalannya waktu, jurang yang dalam justru menganga antara ideal dan realitas sistem. Sekolah tinggi hukum secara kasat mata tampak seperti sistem yang terbuka bagi siapa saja, tetapi pada kenyataannya garis start berbeda. Per 2025, dari 25 sekolah tinggi hukum di seluruh negeri, di 22 sekolah lebih dari 80% lulusannya berasal dari universitas di wilayah metropolitan, dan lulusan dari yang disebut universitas SKY melebihi separuh. Lulusan universitas daerah hanya 5%. Inilah titik di mana kesenjangan antara keterbukaan formal dan hambatan masuk yang sesungguhnya terlihat gamblang.
Lebih jauh, sekolah tinggi hukum lambat laun kehilangan tujuan awalnya, yaitu 'mencetak ahli hukum profesional dengan latar belakang dan pengalaman beragam'. Pendidikan lambat laun berubah menjadi 'struktur bimbel' yang hanya menargetkan lulus ujian pengacara, dan pendidikan berbasis praktik atau lintas disiplin sesungguhnya tersingkir ke belakang. Sebagian mahasiswa mencoba pindah ke sekolah tinggi hukum di wilayah metropolitan untuk menaikkan tingkat kelulusan atau berulang kali cuti kuliah, dan kasus mempersiapkan ujian di bimbel swasta pun meningkat. Akibatnya, sistem sekolah tinggi hukum kian menunjukkan pola 'menjadi seperti ujian negara', dan justru kembali ke struktur yang mengulang keburukan ujian kehakiman masa lalu.
Distorsi kelembagaan semacam ini berpadu dengan keterbatasan struktural pasar hukum sehingga menimbulkan masalah yang lebih besar. Pasar hukum tak dapat berkembang, dan seiring bertambahnya ahli hukum yang hanya berlatar belakang dan pola pikir seragam, struktur tertutup yang bersaing memperebutkan kesempatan terbatas pun mengakar. Hal ini tidak hanya menghambat keberagaman dan kreativitas dunia hukum, tetapi juga berdampak negatif pada kualitas dan aksesibilitas layanan hukum yang diberikan kepada rakyat.
Tentu tidak dapat dikatakan bahwa ujian kehakiman adalah sistem yang ideal. Ujian jangka panjang dan persaingan berlebihan menimbulkan banyak efek samping sosial dan personal. Namun, ujian kehakiman adalah struktur terbuka yang dapat ditantang siapa saja, dan membuka pintu kesempatan tertentu bahkan bagi lulusan luar wilayah metropolitan atau bukan universitas ternama. Apabila sistem sekolah tinggi hukum saat ini bahkan tidak mampu menggantikan hal itu, menghidupkan kembali ujian kehakiman atau memperluas ujian pendahuluan secara menyeluruh juga merupakan opsi yang layak dipertimbangkan.
Namun, pada akhirnya yang penting bukanlah keunggulan antarsistem. Pertanyaan yang sesungguhnya harus dilontarkan adalah ini. "Apakah sistem saat ini benar-benar terbuka bagi para pemuda yang berkemampuan?" Sistem bukanlah tujuan itu sendiri, melainkan harus menjadi sarana untuk mempertahankan hingga akhir nilai dan ideal yang hendak diwujudkan. Sekolah tinggi hukum pun tak dapat menjadi pengecualian.
Kini, saat pemilihan presiden dimulai, apabila dunia politik berbicara tentang pemulihan pemuda, keadilan, dan mobilitas kelas, sistem pencetakan ahli hukum pun harus dibahas dalam forum publik yang melampaui faksi politik. Ini bukan sekadar masalah memperdebatkan ada-tidaknya sistem ujian, melainkan pertanyaan mendasar tentang seberapa jauh masyarakat Republik Korea benar-benar dapat menjamin kesetaraan kesempatan.
Saya berharap janji perubahan yang dimulai dari kalangan hukum dapat sekali lagi memberi harapan kepada lebih banyak rakyat bahwa "naga bisa lahir dari selokan."
[Baca artikel selengkapnya]
Lawleader - [Opini] Sekolah tinggi hukum yang tujuan awalnya memudar, sistem pencetakan ahli hukum harus dirombak total (kunjungi)
Korea Legal Daily - [Opini] Sekolah tinggi hukum yang tujuan awalnya memudar, sistem pencetakan ahli hukum harus dirombak total (kunjungi)Semua bidang Sekilas pandang
1/0
Reservasi Konsultasi Kunjungan
Jika ada masalah hukum, konsultasikan dengan pengacara spesialis Litigasi yang melibatkan warga asing di kantor terdekat
Bidang Praktik
Reservasi Konsultasi