Bidang Praktik
Reservasi Konsultasi

2025-06-12
![[기고] 북극항로의 시대, 부산은 다시 해양수도로 일어서야 한다](/_next/image?url=https%3A%2F%2Fd1tgonli21s4df.cloudfront.net%2Fupload%2Fboard%2Fbroadcast%2F20250612063412932.webp&w=3840&q=100)
Perubahan iklim akibat pemanasan global mengguncang lanskap logistik pelayaran di seluruh dunia. Seiring percepatan mencairnya es Kutub Utara, Jalur Kutub Utara muncul bukan lagi sebagai kemungkinan masa depan, melainkan realitas yang sudah di depan mata. Jalur Kutub Utara, yang dapat memangkas jarak dan waktu pelayaran secara signifikan dibandingkan jalur Terusan Suez yang ada, mendapat sorotan sebagai poros utama penataan ulang rantai pasok global.
Saat ini, sebagian besar volume barang ekspor-impor negara kita menggunakan jalur yang melewati Laut Tiongkok Timur dan Laut Tiongkok Selatan menuju Terusan Suez. Namun, jalur ini bertumpang tindih dengan perairan sengketa yang bertegangan militer dan diplomatik tinggi, seperti Selat Taiwan dan Kepulauan Senkaku. Nyatanya, dalam beberapa tahun terakhir, konflik antara Tiongkok dan negara-negara sekitarnya menjadi faktor ancaman serius bagi stabilitas logistik maritim. Di tengah situasi internasional yang senantiasa diliputi ketidakpastian ini, Jalur Kutub Utara bangkit melampaui sekadar jalur alternatif menjadi poros baru strategi pelayaran nasional.
Perubahan tatanan pelayaran internasional memberi sinyal titik balik penting bagi Busan. Apabila pengoperasian penuh Jalur Kutub Utara terwujud, Busan yang secara geografis terletak di gerbang penghubung Jalur Kutub Utara dan Asia Timur Laut dapat menegakkan kembali statusnya sebagai basis alih muatan (transshipment) sekaligus kota maritim strategis. Namun, realitas Busan telah sampai pada taraf yang bahkan menyinggung krisis kepunahan akibat masalah seperti △penurunan populasi △melemahnya daya saing industri △pemusatan di wilayah ibu kota. Ini situasi yang memprihatinkan sebagai keadaan terkini kota yang dahulu disorot sebagai hub maritim Asia Timur Laut.
Yang dibutuhkan Busan sekarang bukanlah reformasi administrasi yang sepotong-sepotong atau perluasan infrastruktur fisik. Kini saatnya menata ulang secara mendasar 'perangkat lunak kota maritim'—seperti teknologi pelabuhan pintar, sistem pelayaran digital, serta infrastruktur hukum dan kelembagaan yang mampu menangani sengketa global—sambil memanfaatkan semaksimal mungkin pelabuhan dan infrastruktur logistik yang ada.
Terkait hal ini, Presiden Lee Jae-myung semasa menjadi calon presiden pernah menyatakan secara terbuka tekadnya untuk mendirikan pengadilan maritim (admiralty) di Busan. Ini patut dicermati karena melampaui sekadar janji kampanye dalam kerangka pemerataan pembangunan daerah, yakni sebagai pembangunan infrastruktur yudisial strategis untuk menghadapi persaingan pelayaran global.
Nyatanya, kota-kota basis pelayaran terkemuka dunia seperti Singapura, London, Rotterdam, dan Shanghai tanpa kecuali menjalankan fungsi yudisial khusus maritim atau pengadilan maritim yang independen. Landasan kelembagaan tidak sekadar kerangka penyelesaian sengketa, melainkan berfungsi sebagai infrastruktur inti yang menopang transaksi dan kepercayaan seluruh ekonomi maritim, seperti pembiayaan kapal, asuransi maritim, dan kontrak internasional.
Penulis, seraya memimpin ekspansi luar negeri Firma Hukum Daeryun, mengunjungi langsung kota-kota maritim utama seperti Singapura, London, dan Dubai, dan di lapangan merasakan betapa eratnya pengadilan maritim berfungsi dengan ekosistem ekonomi setempat. Khususnya Dubai, meskipun merupakan negara berbasis Islam, menerapkan Common Law Inggris di dalam kawasan ekonomi bebas (DIFC, Dubai International Financial Centre) sehingga menciptakan lingkungan hukum yang membuat perusahaan-perusahaan global dapat bertransaksi dengan tenang. Keputusan berani semacam ini—yang bahkan menyelaraskan sistem hukum dengan pihak luar demi meningkatkan daya saing kota—memberikan banyak pelajaran bagi kita.
Pengadilan maritim yang akan didirikan di Busan pun tidak boleh berhenti pada sekadar pendirian fisik. Untuk mengamankan status sebagai kota maritim global, ia harus dikembangkan menjadi sistem pengadilan maritim internasional yang secara saksama mencerminkan standar dan prosedur yang berlaku umum dalam transaksi maritim internasional. Bila perlu, dapat pula dikaji gagasan untuk menetapkan kawasan tertentu secara terpisah guna menjalankan sistem penyelesaian sengketa berbasis Common Law Inggris, dan lebih jauh membina pengadilan yang mampu mengemban fungsi setara Mahkamah Internasional bidang maritim.
Kini Busan berdiri di depan pintu peluang bersejarah bernama Jalur Kutub Utara. Pendirian dan internasionalisasi pengadilan maritim bukanlah sekadar pembentukan pengadilan baru, melainkan upaya menegakkan kembali pusat strategi maritim Republik Korea. Laut tetaplah masa depan Busan, dan di atas jalan menuju kebangkitan Republik Korea kembali sebagai negara maritim yang kuat, Busan dapat menjadi titik tolak yang paling penting.
[Baca artikel selengkapnya]
[Opini] Era Jalur Kutub Utara, Busan harus bangkit kembali sebagai ibu kota maritim (kunjungi)
Semua bidang Sekilas pandang
1/0
Reservasi Konsultasi Kunjungan
Jika ada masalah hukum, konsultasikan dengan pengacara spesialis Litigasi yang melibatkan warga asing di kantor terdekat