Bidang Praktik
Reservasi Konsultasi

2026-08-28
![[크로스보더 법무] 스타트업 미국 진출의 진짜 첫 관문, '비자'](/_next/image?url=https%3A%2F%2Fd1tgonli21s4df.cloudfront.net%2Fupload%2Fboard%2Fbroadcast%2F20260828062951658.webp&w=3840&q=100)
Pengacara asing Kim Mi-a & Ahn Jun-yong dan penasihat ahli kepabeanan Myeong Jae-ho (firma hukum Daeryun) menyampaikan kabar hukum lintas batas.
Mendirikan C-Corp (perseroan terbatas) di negara bagian Delaware AS dan sebagainya—yang disebut Flip—kini dianggap sebagai formula ekspansi K-startup ke AS. Ini strategi yang membidik ekspansi ke Silicon Valley dan penarikan investasi modal ventura (VC) global. Sebab prosedur pendirian badan hukum di AS, berbeda dengan Korea, tidak menuntut syarat modal minimum yang rumit dan begitu disederhanakan sehingga bisa dilakukan hanya dengan pengajuan dokumen daring melalui agen setempat. Namun, para pendiri dan tim pengembang inti perusahaan yang relatif mudah merampungkan pendirian badan hukum di AS akan membentur tembok besar begitu mengajukan visa untuk menjalankan bisnis secara serius di sana.
Banyak perusahaan menganggap masalah visa sekadar penerbitan izin lintas untuk perjalanan dinas atau pekerjaan administratif bagian SDM. Namun, bagi para pemeriksa Dinas Imigrasi AS, badan hukum AS tahap awal sebuah startup yang tidak memiliki kantor fisik maupun omzet lokal yang jelas hanya tampak sebagai perusahaan kertas. Bila kerangka bernama badan hukum sudah dibangun, berikutnya adalah persoalan siapa yang akan tinggal secara sah dan menjalankan bisnis. Justru strategi visa-lah gerbang pertama sesungguhnya bagi ekspansi ke AS sekaligus inti strategi manajemen.
Jebakan visa perwakilan: pembuktian kantor fisik dan wujud bisnis
Opsi yang pertama kali dipertimbangkan startup untuk masuk ke AS adalah visa perwakilan (L-1) yang mengirim eksekutif atau tenaga inti kantor pusat Korea ke badan hukum AS. Untuk badan hukum AS yang baru didirikan, mengingat masih tahap awal usaha, visa L-1 berdurasi 1 tahun relatif mudah diberikan. Namun, dalam arus pengetatan kebijakan imigrasi pemerintahan Trump belakangan ini, pemeriksaan Dinas Imigrasi pun menjadi sangat ketat.
Titik lemah yang paling sering menjegal adalah pengamanan kantor. Untuk menghemat biaya awal, banyak yang menyewa alamat non-hunian (Virtual Office) dari kantor bersama (WeWork dan sebagainya) atau mendaftarkan kediaman pimpinan sebagai alamat. Dalam hal ini Dinas Imigrasi tanpa ampun menerbitkan permintaan dokumen tambahan (RFE, Request for Evidence) atau bahkan menolak visa. Sebab, bila ruang fisik independen tempat tenaga yang dikirim benar-benar bekerja dan menjalankan bisnis tidak terbukti, wujud bisnis tidak akan diakui.
Sekalipun sudah memperoleh visa L-1 berdurasi 1 tahun dan masuk ke AS, pemeriksaan perpanjangan (Extension) visa setahun kemudian adalah rintangan sesungguhnya. Saat itu USCIS memeriksa dengan ketat apakah badan hukum AS telah memiliki skala organisasi yang cukup untuk menggantikan kantor pusat Korea, dan apakah eksekutif pemegang visa telah mempekerjakan staf lokal yang memadai untuk menjalankan peran manajerial. Banyak sekali pendiri yang tak mampu memenuhi syarat ini dan terpaksa berkemas pulang dengan berat hati setelah hanya 1 tahun.
Dilema visa investasi: risiko dilusi kepemilikan akibat penarikan investasi
Alternatif dari L-1 adalah visa investasi kecil (E-2). Visa ini diberikan kepada investor atau tenaga inti yang hendak menjalankan bisnis dengan menanamkan modal perusahaan ke badan hukum AS. Salah satu syarat inti visa E-2 adalah syarat kewarganegaraan. Yaitu, 50% atau lebih saham badan hukum AS harus dimiliki warga negara Korea (atau badan hukum Korea).
Karena model bisnis startup, visa E-2 mudah terjebak kontradiksi. Sebab menarik investasi berkelanjutan dari VC atau angel investor lokal adalah tugas utama startup. Bila berhasil menarik investasi Seri A, B dan modal AS mengalir masuk besar-besaran, mau tak mau saham pendiri dan kantor pusat Korea terdilusi di bawah 50%. Ironisnya, pada momen tersukses ketika bisnis lokal paling menanjak, syarat kewarganegaraan bisa hilang sehingga visa E-2 dapat dibatalkan. Tenaga inti yang esok harus masuk kerja terancam dalam semalam jatuh menjadi penghuni ilegal.
Selain itu, investasi substansial (Substantial Investment) yang dituntut Dinas Imigrasi tidak memiliki patokan nominal absolut, tetapi secara praktik disebutkan sekitar 80 ribu hingga 200 ribu dolar tergantung jenis usaha. Namun ini tidak terpenuhi sekadar dengan mengirim uang ke rekening bank AS. Harus berupa modal yang sudah dikeluarkan dan terpapar risiko (At-risk) untuk operasional bisnis seperti sewa kantor, pembelian peralatan, dan pemasaran, barulah diakui sebagai investasi.
Visa keahlian khusus dan visa profesional: judi yang bergantung pada kemampuan individu
Karena syarat badan hukum rumit, sebagian perusahaan memilih jalan pintas visa keahlian khusus (O-1) dengan membuktikan kemampuan luar biasa pendiri secara pribadi. Bila ada pemberitaan media ternama, artikel penarikan investasi, paten, dan sebagainya, ini bisa menjadi alternatif yang baik. Namun, meski satu pendiri mungkin teratasi, sangat sulit secara realistis agar pengembang atau pemasar inti yang bekerja bersamanya juga memperoleh O-1. Visa profesional (H-1B) yang harus melalui undian hanya memberi satu kesempatan sekali setahun setiap Maret dan peluang lolosnya relatif rendah, sehingga terlalu berisiko untuk menggantungkan rencana jangka menengah-panjang perusahaan.
Strategi visa bukan pekerjaan susulan, melainkan syarat awal
Bila baru memikirkan visa karyawan setelah gegabah mendirikan badan hukum, meneken kontrak sewa kantor, bahkan menerima investasi awal, itu sudah terlambat. Sejak merancang struktur kepemilikan, sejak menentukan besaran modal yang akan dikirim ke badan hukum AS, jenis visa yang akan dipilih perusahaan kita harus ditentukan lebih dulu.
Hukum imigrasi bukan ranah keterampilan menyusun dokumen dengan baik. Ia adalah ranah inti hukum korporasi yang merancang secara cermat agar rencana bisnis badan hukum AS, kondisi keuangan kantor pusat Korea, peta jalan penarikan investasi, dan skenario penempatan tenaga inti pas sempurna dengan teka-teki syarat visa. Bila menginginkan ekspansi AS yang sukses, manajemen kepatuhan visa (Visa Compliance) harus dipersiapkan seketat strategi penarikan investasi. Sebab akta pendirian badan hukum tidak menjamin dimulainya bisnis, tetapi visa yang tepat adalah kunci yang mewujudkan bisnis itu menjadi nyata.
[Baca artikel selengkapnya]
[Hukum Lintas Batas] Gerbang pertama sesungguhnya bagi ekspansi startup ke AS, 'visa' (Kunjungi tautan)
Semua bidang Sekilas pandang
1/0
Reservasi Konsultasi Kunjungan
Jika ada masalah hukum, konsultasikan dengan pengacara spesialis Litigasi yang melibatkan warga asing di kantor terdekat