[Beyond Post, Reporter Kim Sin] Kecelakaan lalu lintas dapat terjadi pada siapa saja, tetapi ketika benar-benar terjadi kecelakaan lalu lintas dan mengalami kerugian, di tengah kekalutan banyak masalah yang harus diperhitungkan. Di antaranya, kerap terjadi sengketa mengenai proporsi kelalaian antara pelaku dan korban.
Ada kasus di mana perusahaan asuransi mengecilkan proporsi kelalaian secara berlebihan demi menekan uang perdamaian, sehingga perlu diperhatikan, dan alih-alih menentukan uang perdamaian dengan tergesa-gesa, seluruh unsur perlu dipertimbangkan. Saat itu, jika ada perbedaan pandangan mengenai proporsi kelalaian sehingga perdamaian tidak tercapai, seseorang harus mengajukan gugatan untuk menuntut ganti rugi yang setimpal.
Inti kompensasi kerugian kecelakaan lalu lintas adalah menilai secara tepat biaya pengobatan termasuk biaya pengobatan yang timbul di kemudian hari, lalu menentukan apakah akan menempuh gugatan. Dalam perkara perdata, pos ganti rugi terbagi menjadi kerugian aktif, kerugian pasif, dan uang santunan; kerugian aktif mencakup biaya pengobatan di rumah sakit, biaya rawat inap, biaya perawatan, biaya pemakaman, dan sebagainya, sedangkan kerugian pasif mencakup penghasilan yang seharusnya dapat diperoleh di masa depan andai tidak mengalami kecelakaan.
Selain pekerja bergaji dan pelaku usaha, nilai ganti rugi berbeda sesuai apakah seseorang sulit membuktikan penghasilan, penganggur, ibu rumah tangga, dan sebagainya, sehingga harus disusun strategi agar dapat memperoleh nilai ganti rugi yang tepat dalam batas kriteria yang ditetapkan. Ganti rugi harus diajukan gugatannya dalam masa daluwarsa, dan kerugian harus didalilkan serta dibuktikan per pos, dan jika putusan berkekuatan hukum tetap maka tidak dapat ditarik kembali sehingga harus dijalankan secara hati-hati.
Pengacara Firma Hukum (Perseroan Terbatas) Daeryun, Hyeon Byeong-hui, menasihati, “Saat menuntut ganti rugi kecelakaan lalu lintas, diperlukan pembuktian fakta yang jelas mengenai kronologi kejadian, proporsi kelalaian, penyebab kecelakaan, dan sebagainya, sehingga bagi orang awam ada batasnya untuk menjalankan sendiri berbagai penilaian hukum yang diperlukan mulai dari perdamaian hingga gugatan,” dan “sebaiknya menanggapi dengan menerima bantuan pengacara spesialis kecelakaan lalu lintas yang telah menangani beragam perkara kecelakaan lalu lintas.”
Baca artikel lengkap - Ganti rugi kecelakaan lalu lintas, jika mengalami sengketa proporsi kelalaian sebaiknya mempertimbangkan menjalankan gugatan