Bidang Praktik
Reservasi Konsultasi

2025-02-11

Akhir bulan lalu, muncul keputusan yang patut disorot terkait Undang-Undang Kesehatan di Mahkamah Konstitusi. Duduk perkaranya sebagai berikut. Badan hukum medis A yang mengoperasikan rumah sakit jiwa pada 2021 mengajukan pertanyaan ke Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan. Isinya tentang 'apakah mungkin membuka departemen layanan kedokteran oriental Korea di dalam rumah sakit jiwa'.
Kementerian memberikan jawaban bahwa hal itu tak mungkin. Dasarnya adalah Pasal 43 ayat (1) Undang-Undang Kesehatan. Ketentuan tersebut memuat isi bahwa 'rumah sakit·rumah sakit gigi atau rumah sakit umum dapat menambah membuka·menjalankan departemen layanan kedokteran oriental Korea dengan menempatkan dokter kedokteran oriental Korea', dan sikap Kementerian adalah rumah sakit jiwa yang tidak tercantum di sini tak dapat membuka departemen kedokteran oriental Korea.
Bukan berarti sejak awal mustahil membuka departemen kedokteran oriental Korea di rumah sakit jiwa. Undang-Undang Kesehatan yang diubah pada Januari 2009 memungkinkan seluruh institusi medis setingkat rumah sakit membuka·menjalankan departemen layanan kedokteran, kedokteran oriental Korea, dan kedokteran gigi. Saat itu rumah sakit jiwa termasuk dalam rumah sakit perawatan sehingga kolaborasi dokter, dokter kedokteran oriental Korea, dan dokter gigi menjadi mungkin.
Namun, seiring perubahan Undang-Undang Kesehatan pada 2020, situasinya berubah. Rumah sakit jiwa ditetapkan sebagai institusi medis tersendiri yang terpisah dari rumah sakit perawatan. Seraya itu, dalam Pasal 43 ayat (3) undang-undang yang sama dimasukkan isi yang memungkinkan rumah sakit jiwa menambah membuka·menjalankan departemen layanan kedokteran gigi, tetapi ketentuan tersendiri mengenai departemen kedokteran oriental Korea tidak disiapkan.
Terhadap situasi semacam ini, badan hukum medis A menentang. Ia bersuara lantang bahwa membuat departemen layanan kedokteran oriental Korea hanya dapat dibuka·dijalankan di rumah sakit, rumah sakit gigi, dan rumah sakit umum merupakan pelanggaran kebebasan berprofesi. Seraya itu, ia sekaligus mengajukan pengujian pengaduan konstitusional.
Mahkamah Konstitusi menyatakan Undang-Undang Kesehatan yang berlaku semacam ini tidak rasional, dan dengan suara bulat seluruh hakim menjatuhkan keputusan ketidaksesuaian dengan konstitusi. Yakni, tidak ada alasan khusus untuk hanya pada rumah sakit jiwa tidak mengizinkan kolaborasi dokter kedokteran oriental Korea, berbeda dari rumah sakit lain.
Sebaliknya, Mahkamah Konstitusi menekankan bahwa kebutuhan departemen kedokteran oriental Korea di dalam rumah sakit jiwa justru lebih besar. Maksudnya, pada institusi medis jiwa banyak pasien rawat inap yang memerlukan pengobatan jangka panjang, sehingga aksesibilitas terhadap layanan medis harus ditingkatkan dengan memungkinkan pasien yang tak bebas keluar-masuk akibat rawat inap yang tidak sukarela memperoleh layanan departemen lain seperti kedokteran oriental Korea, dan lainnya.
Mahkamah Konstitusi juga memberikan jawaban yang bermaksud membantah pendapat sebagian pihak bahwa 'layanan kedokteran oriental Korea di dalam rumah sakit jiwa tidak diperlukan'. Ia menekankan bahwa rakyat selaku pengguna layanan medis memiliki keinginan memperoleh layanan medis terpadu antara pengobatan oriental Korea·pengobatan Barat, dan terdapat pula contoh klinis bahwa hasil pengobatannya pun efektif. Sikap semacam ini dapat dikatakan sebagai contoh yang menunjukkan bahwa pandangan Mahkamah Konstitusi terhadap pengobatan gabungan oriental Korea·Barat telah melangkah maju.
Tim Usaha Kecil dan Menengah
[Baca artikel selengkapnya]
Kini departemen kedokteran oriental Korea pun bisa dibuka di dalam rumah sakit jiwa…apa latar belakang penilaian Mahkamah Konstitusi? (kunjungi)Semua bidang Sekilas pandang
1/0
Reservasi Konsultasi Kunjungan
Jika ada masalah hukum, konsultasikan dengan pengacara spesialis Litigasi yang melibatkan warga asing di kantor terdekat