Bidang Praktik
Reservasi Konsultasi

2025-02-24
![[월요칼럼]조정과 화해가 필요한 시대](/_next/image?url=https%3A%2F%2Fd1tgonli21s4df.cloudfront.net%2Fupload%2Fboard%2Fbroadcast%2F20250224121109758.webp&w=3840&q=100)
Saat mewakili gugatan, ada kalanya penggugat dan tergugat yang berhadapan dalam pertentangan ekstrem secara dramatis mencapai kesepakatan di tengah jalannya persidangan sehingga persidangan berakhir melalui mediasi atau perdamaian.
Mediasi adalah prosedur penyelesaian sengketa dengan cara pihak ketiga yang netral turut campur di antara para pihak yang bersengketa untuk mencapai kesepakatan, sedangkan perdamaian berarti kesepakatan di mana penggugat dan tergugat saling mengalah sedikit demi sedikit atas dalilnya untuk mengakhiri gugatan.
Belakangan, dalam perkara pidana pun mediasi pidana aktif dilakukan pada tahap kejaksaan untuk menyelesaikan sengketa pidana secara damai dan memulihkan kerugian korban secara nyata. Ada pula orang yang, karena perasaan terhadap pihak lawan sudah terlampau memburuk, benar-benar menginginkan kesimpulan melalui putusan majelis hakim, tetapi seiring berjalannya proses gugatan, luka batin akibat surat-surat yang saling menyerang dapat membesar tak terkendali, atau berbeda dari yang diharapkan hasil yang diinginkan tak diperoleh, sehingga apabila tercapai kesepakatan dengan cara saling mengalah sedikit demi sedikit untuk mencapai win-win, cara penyelesaian sengketa di atas bisa sangat efektif.
Jika menyebutkan perkara mediasi perceraian yang berkesan bagi penulis, dalam perkara yang semula dikira akan mudah tercapai mediasinya tanpa banyak kesulitan karena isu seperti pembagian harta tak begitu bermasalah, pihak termohon (suami) mulai menyerang kesalahan pemohon (istri) sehingga saling mencela berlanjut dan mediasi tidak tercapai lalu beralih menjadi gugatan perceraian.
Dalam situasi di mana gugatan berlangsung hampir 2 tahun dan perasaan kedua belah pihak sudah memuncak, penggugat dan tergugat secara dramatis datang membawa kesepakatan sehingga gugatan berakhir melalui akta mediasi. Kemudian, saat menanyakan kepada klien bagaimana kesepakatan itu tercapai, ternyata ada permohonan tulus dari sang putri yang berharap ibu dan ayahnya berhenti bertengkar. Saya masih ingat pernah mengatakan bahwa meski penggugat dan tergugat akan menjadi orang asing melalui perceraian, mengingat hubungan yang akan selamanya tetap ada sebagai orang tua sang putri, mereka telah mengambil keputusan yang sangat bijak.
Di antara berbagai perkara kekerasan di sekolah, kerap dijumpai perkara di mana teman-teman yang tadinya sangat akrab menjadi renggang akibat kata-kata yang saling melukai lalu dilaporkan sebagai saling melapor atas kekerasan verbal dan sebagainya. Dalam kasus semacam ini, penulis, yang juga orang tua yang membesarkan anak, pun merasa sangat prihatin.
Khususnya, ketika di antara dua siswa tidak ada kesempatan percakapan yang serius atau rekonsiliasi sukarela, kami berupaya lebih dulu menciptakan kesempatan berdialog dan menemukan titik kesepakatan, sebab tak seorang pun menginginkan penjatuhan sanksi yang hanya menyisakan luka batin bagi kedua siswa.
Karena itu, penulis pernah menyaksikan sebuah perkara di mana sehari sebelum penyelenggaraan Komite Musyawarah Penanggulangan Kekerasan di Sekolah tercapai kesepakatan antarpihak sehingga komite tidak digelar dan perkara terselesaikan sendiri. Ketika menyaksikan situasi di mana bahkan di antara anak-anak penulis yang masih SD pun terdapat perbedaan pendapat dan pertengkaran terjadi setiap pagi, timbul pula pemikiran bahwa berharap konflik dan sengketa lenyap sama sekali dari kehidupan manusia adalah hal yang mustahil.
Hal itu semakin terasa mengingat sejak umat manusia membuka cakrawala sejarah, ia terus menjalani begitu banyak perang sehingga sejarah umat manusia bahkan disebut sebagai sejarah peperangan. Sebaliknya, kita juga mengetahui sejarah banyak negara yang di tengah puing-puing perang berhasil memulihkan individu dan komunitas melalui pemaafan dan rekonsiliasi, serta meraih kemajuan yang gemilang.
Secara luas di antara kelompok politik dan lapisan sosial, secara sempit di antara keluarga dan kenalan yang bersua dalam keseharian, begitu banyak konflik dan sengketa dapat kerap terjadi, dan cara menyelesaikannya pun sangat beragam.
Namun, untuk meminimalkan pengurasan emosi yang tidak perlu dan berfokus pada hidup sendiri yang berharga alih-alih pada sengketa demi melangkah ke masa depan yang lebih baik, menyelesaikan masalah melalui mediasi dan perdamaian bisa menjadi jalan pintas yang lebih pasti.
[Baca artikel selengkapnya]
[Kolom Senin]Era yang membutuhkan mediasi dan perdamaian (kunjungi)
Semua bidang Sekilas pandang
1/0
Reservasi Konsultasi Kunjungan
Jika ada masalah hukum, konsultasikan dengan pengacara spesialis Litigasi yang melibatkan warga asing di kantor terdekat