Bidang Praktik
Reservasi Konsultasi

2025-04-20
![[월요칼럼]워킹맘의 관점에서 본 저출생 문제](/_next/image?url=https%3A%2F%2Fd1tgonli21s4df.cloudfront.net%2Fupload%2Fboard%2Fbroadcast%2F20250420112417628.webp&w=3840&q=100)
Menurut ‘Situasi Ketenagakerjaan Perempuan Menikah’ dalam Survei Ketenagakerjaan Regional paruh pertama 2024 Badan Pusat Statistik, perempuan menikah berusia 15~54 tahun berjumlah 7.654.000 orang, dan di antaranya perempuan yang bekerja 5.053.000 orang, perempuan yang tidak bekerja 2.601.000 orang, serta di antara perempuan yang tidak bekerja, perempuan dengan karier terputus 1.215.000 orang, dengan alasan perempuan berkarier terputus berhenti bekerja adalah pengasuhan anak 41,1%, pernikahan (24,9%), kehamilan·persalinan (24,4%), perawatan keluarga (4,8%), pendidikan anak (4,7%) secara berurutan.
Proporsi perempuan berkarier terputus semakin tinggi apabila jumlah anak lebih banyak, yakni 3 anak atau lebih (27,7%), 2 anak (23,7%), 1 anak (21,1%), dan semakin muda usia anak semakin tinggi, yakni usia 6 tahun ke bawah (33,5%), 7~12 tahun (19,9%), 13~17 tahun (11,4%).
Alasan perempuan berkarier terputus berhenti bekerja dapat dikatakan hampir tidak ada yang disebabkan masalah perempuan itu sendiri. Pengasuhan anak, pernikahan, kehamilan·persalinan, perawatan keluarga, dan pendidikan anak dalam statistik semuanya menunjukkan bahwa itu demi menjalankan peran perempuan dalam keluarga.
Terputusnya karier perempuan akibat persalinan dan pengasuhan anak bukanlah masalah baru satu dua hari di masyarakat kita, dan kebijakan serta sistem dukungan penyeimbangan kerja dan keluarga seperti waktu pengasuhan anak dan cuti pengasuhan anak untuk membesarkan anak pun nyatanya sangat berkembang berbeda dengan dahulu.
Penulis, saat menjalankan dinas sebagai perwira Angkatan Darat, menikah lalu hamil, dan ketika mengandung anak pertama tidak ada sistem yang memungkinkan penyesuaian jam kerja dengan waktu pengasuhan anak seperti sekarang, sehingga bekerja sekuat yang stamina izinkan, lalu dengan menyampaikan permohonan maaf kepada para perwira lain yang harus menggantikan pekerjaan penulis, terpaksa mengambil cuti melahirkan atau cuti pengasuhan anak. Setelah melahirkan, tanpa pengasuh pendukung seperti ibu kandung, penulis sampai pada kesimpulan bahwa tidak dapat lagi menjalani kehidupan perwira yang berpindah tugas dari daerah ini ke daerah itu setiap 1~2 tahun, dan baru saat itulah penulis berpikir bahwa persalinan anak dapat mengubah hidupku sepenuhnya.
Terlepas dari hidup penulis yang mengalami perubahan, anak sungguh cantik hingga tak sakit sekalipun dimasukkan ke mata, dan penulis ingin menghabiskan banyak waktu bersama anak serta tinggal di tempat itu. Penulis pun berpikir bahwa jika karena pekerjaanku aku tak dapat melihat anak tumbuh, aku akan bahagia sekalipun berhenti bekerja.
Setelah itu penulis diberi satu kesempatan lagi, dan setengah karena kehendak sendiri, setengah karena keadaan, hingga kini terus bekerja tanpa terputus, tetapi rasa sakit karena harus meninggalkan rumah dengan melepaskan anak yang menangis, dan rasa bersalah karena tidak dapat menemani akhir pekan karena pekerjaan, masih tersisa utuh di dalam hati penulis.
Saat ini berbagai sistem dukungan ekonomi untuk mengatasi masalah rendahnya angka kelahiran diberlakukan, tetapi banyak kritik bahwa dari sisi hasil atau efektivitas, keefektifannya tidak besar. Penulis berpikir bahwa masalah serius rendahnya angka kelahiran pun perlu didekati dari sudut pandang perubahan kesadaran dalam keluarga, penyiapan sistem yang memungkinkan penyeimbangan kerja dan keluarga, serta penciptaan atmosfer sosial, dari perspektif perempuan yang secara nyata harus memimpin persalinan dan pengasuhan.
Pertama, dari sisi perempuan pun, menjadi seorang ibu adalah hal yang begitu menakutkan yang membawa perubahan besar bagi hidupnya sendiri, sehingga dukungan aktif dan pembagian pengasuhan dari pasangan sangat penting, dan tanpa perbaikan kesadaran dalam keluarga, perempuan pun mau tidak mau sulit dengan mudah memilih persalinan dan pengasuhan.
Dukungan ekonomi memang penting, tetapi sistem yang memungkinkan pengelolaan waktu secara fleksibel khususnya penting. Sebab pada kenyataannya saat mengasuh anak, jika dikurangi waktu berangkat·pulang kerja dan jam kerja tetap, waktu untuk melihat anak pada hari kerja hanya sekitar 1~2 jam. Penulis pun sangat terbantu dalam pengasuhan anak, misalnya menjemput anak kedua dari sekolah dengan memanfaatkan sistem waktu pengasuhan anak yang belum ada saat mengasuh anak pertama.
Anak-anak menunggu, tetapi yang paling ditakuti penulis termasuk pasangan penulis adalah liburan sekolah dan taman kanak-kanak. Pada saat itu, pasangan penulis, orang tua mertua, dan orang tua teman semua mau tidak mau dikerahkan, tetapi berbeda dengan dahulu, pasangan penulis dapat menggunakan cuti perawatan keluarga dan sebagainya sehingga sebagian waktu dapat diatur dan hal itu sangat membantu.
Terakhir, tampaknya masyarakat perlu menciptakan atmosfer yang secara berkelanjutan menyambut dan membantu pengasuhan anak. Masyarakat kita terus-menerus mengejar efisiensi di segala bidang demi perkembangan yang cepat.
Hal yang penulis rasakan saat mengasuh anak adalah bahwa mengasuh anak jauh dari efisiensi. Anak kecil tidak dapat mengenakan sehelai baju pun sendiri, saat makan berceceran makanan di sana-sini hingga sangat kotor, dan orang tua harus menunggu setiap saat baik saat anak berguling, merangkak, maupun berjalan. Namun, anak hanya dapat membentuk jati dirinya sendiri dan tumbuh menjadi orang dewasa yang mandiri melalui berbagai coba-coba dan kesalahan.
Dari perspektif ini, masyarakat harus memandang perempuan yang mengasuh anak dan anak-anak dengan tatapan hangat dan lapang serta membantu, dan tidak boleh bersikap pelit hanya dengan mengejar efisiensi.
“Untuk membesarkan seorang anak dibutuhkan seluruh kampung.”
[Baca artikel selengkapnya]
[Kolom Senin] Masalah rendahnya angka kelahiran dilihat dari perspektif ibu bekerja (kunjungi)
Semua bidang Sekilas pandang
1/0
Reservasi Konsultasi Kunjungan
Jika ada masalah hukum, konsultasikan dengan pengacara spesialis Litigasi yang melibatkan warga asing di kantor terdekat