Bidang Praktik
Reservasi Konsultasi

2025-07-20
![[기고] 제약회사·의료기기 업체 리베이트 수사사례 모음과 시사점](/_next/image?url=https%3A%2F%2Fd1tgonli21s4df.cloudfront.net%2Fupload%2Fboard%2Fbroadcast%2F20250720111324424.webp&w=3840&q=100)
Pengacara Daeryun Lee Il-hyung "Terus diperkuat..pelaporan internal paling banyak, petunjuk beragam-kerja sama antar-lembaga menjadi lazim"
‘Diperkirakan berbagai teknik penyidikan akan dikerahkan, seperti analisis data resep HIRA dan pemanfaatan bahan pemeriksaan pajak"
Terkait isu rabat (kickback), dengan bertumpuknya penerapan sistem pelaporan CSO, terjadinya rangkaian kasus rabat, serta pengumuman penindakan khusus 'rabat industri farmasi' oleh pemerintah baru (Juli–Oktober 2025), ketegangan di kalangan industri farmasi dan alat kesehatan pun meningkat.
Terkait hal ini, penulis pernah membahas keseluruhan regulasi rabat dalam artikel opini di Yakup Sinmun pada Juni 2025. Kali ini, demi para praktisi, penulis ingin merangkum kasus-kasus utama terkait rabat sejak 2015 hingga terkini dan mencermati implikasinya.
1. Kasus Rumah Sakit J tahun 2015 - rabat yang memanfaatkan distribusi grosir milik sendiri
Kasus Rumah Sakit J adalah kasus ketika 46 orang termasuk ketua dewan rumah sakit menjalankan yang disebut ‘distribusi grosir milik sendiri’ dan menerima rabat sekitar 1 miliar won Korea Selatan lebih dari 18 perusahaan farmasi sejak 2011 hingga 2015. Mereka menjalankan ‘distribusi grosir milik sendiri’ lalu membuat 'kontrak harga satuan' dengan perusahaan farmasi dan menerima rabat dengan cara mengambil selisih diskon harga obat.
Sementara itu, kasus ini unik karena petunjuk penyidikan (latar belakang dimulainya penyidikan) berasal dari laporan karyawan perusahaan farmasi yang tidak tahan atas kesewenang-wenangan pihak ‘gap’ (unit distribusi grosir milik rumah sakit).
Hal unik lainnya adalah bahwa sanksi pidana dan sanksi administratif berbeda arah. Kejaksaan Korea Selatan, dengan alasan bahwa ‘rabat tampak bernilai kecil atau merupakan perbuatan menyimpang pribadi tenaga pemasaran’, menjatuhkan penetapan tidak menuntut seperti penangguhan penuntutan terhadap perusahaan farmasi. Namun, ini juga kasus yang sempat menuai kontroversi karena Kementerian Keamanan Pangan dan Obat Korea Selatan menilai secara independen dan menyatakan akan menjatuhkan sanksi administratif terhadap sebagian perusahaan farmasi.
2. Kasus Perusahaan N tahun 2016 - rabat varian yang memanfaatkan jurnal akademik
Perusahaan N didakwa atas dugaan menggelar diskusi panel dengan dalih biaya iklan menggunakan media khusus farmasi dan jurnal akademik, serta memberikan uang dan barang senilai sekitar 2,5 miliar won Korea Selatan kepada para dokter sejak 2011 hingga 2016.
Kasus ini bermula dari pengungkapan seorang karyawan media khusus farmasi, dan penyidikan menghebat ketika Kejaksaan Distrik Barat Seoul melakukan penggeledahan dan penyitaan. Kejaksaan Korea Selatan berpendapat bahwa ‘diskusi panel dan pembuatan jurnal akademik’ pada akhirnya merupakan 'rabat varian', tetapi dalam persidangan perdebatan berlanjut seputar ada tidaknya persekongkolan terorganisasi dan kesadaran akan sifat melawan hukum.
Hal yang patut dicatat dalam kasus ini adalah bahwa hukuman relatif berat dijatuhkan kepada para pelaksana dan jurnal akademik khusus, tetapi terhadap pengurus Perusahaan N dijatuhkan putusan bebas dan penghentian penuntutan. Kejaksaan Korea Selatan berpendapat bahwa ini adalah kasus rabat terorganisasi di tingkat perusahaan, tetapi pengadilan menilai bahwa perbuatan itu dilakukan atas prakarsa para pelaksana (PM), dan bukti bahwa pengurus atau kepala divisi menerima laporan konkret atau terlibat masih kurang.
Selain itu, sebagian perbuatan rabat dianggap telah kedaluwarsa masa penuntutannya sehingga diproses sebagai penghentian penuntutan, dan pengadilan mengakui adanya kemungkinan bahwa para terdakwa tidak menyadari sifat melawan hukumnya. Khususnya untuk bidang penyakit langka dan obat antikanker, kebutuhan akan acara akademik guna meningkatkan kesadaran penyakit pun turut dipertimbangkan.
3. Kasus ‘5 Perusahaan Farmasi’ tahun 2018 - penyidikan lintas lembaga
Pada September 2018, Badan Audit dan Inspeksi Korea Selatan melakukan audit internal atas hasil pemeriksaan terpadu badan hukum dan perorangan oleh Kantor Pajak Regional Seoul, dan setelah memastikan dugaan bahwa 5 perusahaan farmasi memberikan rabat berupa uang dan barang senilai total 37,4 miliar won Korea Selatan kepada para dokter dan apoteker, memberitahukan perlunya penyelidikan kepada Kementerian Keamanan Pangan dan Obat Korea Selatan (selanjutnya disebut MFDS).
Sejalan dengan itu, Tim Investigasi Pusat Pelaku Kejahatan Berbahaya (Tim Investigasi Pusat) di bawah MFDS melakukan penggeledahan dan penyitaan terhadap kantor pusat Perusahaan D pada Desember 2018, dan penyidikan pun menghebat.
Kasus ini khas karena merupakan contoh pengungkapan rabat yang melibatkan banyak lembaga secara berantai: ‘pemeriksaan pajak Layanan Pajak Nasional Korea Selatan → audit Badan Audit dan Inspeksi Korea Selatan → penyidikan MFDS → pelimpahan ke Kejaksaan Korea Selatan’. Selain itu, bagian yang patut diperhatikan adalah fakta bahwa Badan Audit dan Inspeksi Korea Selatan menganalisis hasil pemeriksaan pajak, menangkap dugaan rabat, lalu memberitahukannya kepada lembaga terkait sehingga penyidikan dimulai.
4. Kasus Farmasi K tahun 2024 dan Farmasi D tahun 2025
Baru-baru ini, pada 2024 dan 2025 pun terdapat kasus terkait rabat. Namun, pada kedua kasus itu perusahaan menyangkal dugaan, dan hubungan fakta pun belum ditetapkan, sehingga dirasa tidak tepat untuk memberikan komentar konkret. Oleh karena itu, mengenai kasus-kasus di atas, penulis ingin menggantinya dengan siaran pers lain.
5. Kasus Perusahaan Alat Kesehatan G tahun 2024
Perusahaan alat kesehatan G terjaring Komisi Perdagangan yang Adil Korea Selatan atas dugaan memberikan biaya penelitian klinis, biaya aktivitas akademik, biaya iklan, dan lainnya senilai total 3,7 miliar won Korea Selatan kepada 54 rumah sakit di seluruh negeri guna memperluas penjualan stent penyalur obat untuk arteri koroner (DES) sejak 2016 hingga 2022.
Penjualan DES Perusahaan G meningkat lebih dari 16 kali lipat, dari 300 juta won Korea Selatan pada 2016 menjadi 4,9 miliar won Korea Selatan pada 2022, dan dipastikan bahwa lebih dari 90% di antaranya terjadi di rumah sakit yang mengikat kontrak rabat. Pada 2024, Komisi Perdagangan yang Adil Korea Selatan menjatuhkan perintah perbaikan sekaligus denda administratif sebesar 287 juta won Korea Selatan kepada Perusahaan G.
Diketahui luas bahwa praktik rabat sebagian juga ada di kalangan industri alat kesehatan, tetapi biasanya skalanya relatif lebih kecil dibandingkan perusahaan farmasi. Namun, dalam kasus ini, meski merupakan perusahaan alat kesehatan, skala rabatnya relatif besar, dan fakta bahwa ia dikenai sanksi oleh Komisi Perdagangan yang Adil Korea Selatan, bukan oleh lembaga penyidik, merupakan hal yang patut dicatat.
5. Implikasi
Selain itu, ada pula kasus-kasus rabat besar dan kecil lainnya, tetapi karena keterbatasan ruang, penulis memohon pengertian atas ketidakmampuan menyampaikan semuanya. Bila ada kesempatan, penulis akan merangkum kasus-kasus itu lebih lanjut untuk disampaikan. Sementara itu, bila mencermati rangkaian kasus tersebut, tertangkap alur berikut.
Pertama, sebagai petunjuk penyidikan (penyebab dimulainya penyidikan), ‘pelaporan orang dalam’ masih paling banyak.
Kedua, tetapi petunjuk penyidikan di atas kian beragam.
Ketiga, kerja sama antar-lembaga kian menjadi lazim.
Keempat, ke depan diperkirakan akan dikerahkan berbagai teknik penyidikan seperti analisis data resep HIRA dan pemanfaatan bahan pemeriksaan pajak.
Kelima, sebagaimana telah disampaikan dalam artikel sebelumnya, regulasi pemerintah terus diperketat. Dan ke depan pun regulasi rabat diperkirakan akan terus diperkuat secara berkelanjutan.
Bila merangkum hal di atas, mengingat pentingnya ‘kepatuhan (compliance)’ mau tidak mau akan terus membesar ke depan, industri pun tampaknya perlu mempersiapkan diri terhadap hal ini.
Di sisi lain, bila mencermati kasus-kasus di atas, kasus yang memperoleh penetapan tidak bersalah pun tidak sesedikit yang dibayangkan. Oleh karena itu, penulis juga ingin menyampaikan bahwa apabila Anda secara tidak adil dituduh melakukan rabat, terdapat peluang untuk mengurai kesulitan semacam ini bila memberikan penjelasan yang memadai dalam proses penyidikan ke depan.
[Baca artikel selengkapnya]
[Opini] Kumpulan contoh kasus penyidikan rabat perusahaan farmasi dan alat kesehatan serta implikasinya (buka tautan)
Semua bidang Sekilas pandang
1/0
Reservasi Konsultasi Kunjungan
Jika ada masalah hukum, konsultasikan dengan pengacara spesialis Litigasi yang melibatkan warga asing di kantor terdekat