Bidang Praktik
Reservasi Konsultasi

2025-08-08
![[기고] 사법 신뢰 해치는 불법 수임 구조, 이제는 국가가 나서야 할 때](/_next/image?url=https%3A%2F%2Fd1tgonli21s4df.cloudfront.net%2Fupload%2Fboard%2Fbroadcast%2F20250808080954693.webp&w=3840&q=100)
Baru-baru ini, sebuah unggahan anonim yang dimuat di suatu komunitas pengacara memberikan guncangan besar pada keseluruhan kalangan hukum. Isinya adalah bahwa sebagian firma hukum, dengan mengedepankan tenaga mantan aparat penyidik, tidak hanya menerima perkara tetapi juga mencampuri penanganan hingga hasilnya, bahkan menyediakan uang atau barang kepada orang dalam fasilitas pemasyarakatan atau narapidana untuk menjaring perkara, atau memblokir surat-menyurat sebagai sarana mengganggu bisnis pengacara pesaing. Terlebih lagi, dalil bahwa bahkan tertangkap indikasi menyediakan dana kepada geng kejahatan terorganisasi dan memperoleh rujukan perkara, pada awalnya tampak seperti sekadar cerita horor.
Namun, hanya dalam beberapa hari, keadaan-keadaan seperti ini mulai terungkap menjadi kenyataan melalui pemberitaan media dan pengumuman instansi penyidik. ‘Kebetulan’ yang berulang kini bukan lagi kebetulan. Kita kini berdiri pada titik balik ketika wujud nyata struktur penerimaan perkara ilegal yang selama ini dianggap sebagai rumor mulai muncul ke permukaan satu demi satu.
Contoh yang khas adalah apa yang disebut ‘kasus tabrak lari akibat obat dengan Rolls-Royce’ yang terjadi pada Agustus 2023. Tersangka yang mengemudikan sedan mewah dalam keadaan mengonsumsi narkotika hingga menewaskan seorang perempuan berusia 20-an didakwa atas dugaan menyediakan jamuan senilai sekitar 100 juta won kepada seorang perwira polisi aktif dalam proses penyidikan perkara. Menurut media, jamuan ini diatur melalui kepala kantor (samujang) yang berafiliasi dengan firma hukum tertentu, dan di firma hukum tersebut banyak menempati mantan polisi. Tersangka pun merupakan sosok yang diangkat kemungkinan keterkaitannya dengan kejahatan terorganisasi.
Ada pula perkara yang menyusul. Dua kantor terkait digeledah dan disita atas dugaan bahwa seorang pengacara yang berafiliasi dengan firma hukum lain, melalui transaksi dengan tahanan rumah tahanan, mentransfer sekitar 20 juta won kepada sipir penjara dan sebagai imbalannya membuat kliennya ditempatkan di sel isolasi, bukan sel bersama biasa. Ini berarti struktur membeli lingkungan tahanan dengan uang terungkap secara nyata.
Kasus semacam ini mengisyaratkan bahwa perilaku penerimaan perkara ilegal di kalangan hukum bukanlah penyimpangan terisolasi individu, melainkan masalah struktural. Di internal kalangan hukum, broker ilegal yang disebut ‘kepala kantor lapangan (oegeun samujang)’ telah beroperasi secara diam-diam, dan mereka menyalahgunakan struktur informasi yang asimetris sehingga membuat rakyat tidak dapat mempercayakan perkara secara wajar. Broker melebih-lebihkan pengaruh penyidikan atau gelar mantan pejabat sambil menuntut puluhan juta won dari klien, dan firma hukum membiarkan atau membantunya secara diam-diam. Lebih jauh, sebagian bahkan menunjukkan perilaku ganda dengan memanfaatkan broker sebagai bagian dari ‘strategi bisnis’.
Pada saat struktur ilegal seperti ini berfungsi bukan sebagai objek penindakan melainkan sebagai sarana bertahan hidup, kepercayaan yudisial runtuh. Firma Hukum Daeryun tempat penulis menjadi perwakilan menjalankan pedoman internal yang melarang keras kontak dengan broker bagi seluruh anggota, dan apabila indikasi pelanggaran hukum terkonfirmasi, segera mengadukannya kepada instansi penyidik. Namun, kenyataan bahwa firma hukum yang mematuhi standar etika seperti ini justru tersisih dari pasar, sementara firma hukum yang membiarkan atau memanfaatkan pelanggaran hukum menguasai keunggulan kompetitif, merupakan pembalikan struktural yang secara serius merusak sendi negara hukum.
Masalahnya, hal ini tidak lagi dapat diselesaikan hanya dengan regulasi mandiri kalangan pengacara. Persekongkolan dengan kekuasaan publik, kebocoran informasi penyidikan, dan penjajaan perkara melampaui sekadar masalah etika dan merupakan kejahatan pidana, dan kerugiannya diderita bukan oleh individu tertentu melainkan oleh seluruh masyarakat. Karena itu, kini negara harus turun tangan. Untuk menjaga keadilan yudisial dan kepercayaan pasar, pemerintah dan lembaga terkait harus segera memulai penyidikan menyeluruh atas perkara yang telah terungkap, survei keadaan dan inspeksi besar-besaran atas keseluruhan struktur penerimaan perkara ilegal yang masih berlangsung di tempat gelap, serta penyempurnaan kelembagaan untuk mencegah keberulangan.
Rakyat mempercayai etika para praktisi hukum dan mempercayakan hak serta hidupnya kepada sistem peradilan. Namun, apabila kepercayaan itu berulang kali dikhianati, keadilan runtuh dan praktisi hukum kehilangan dasar keberadaannya. Yang harus kita lakukan sekarang sudah jelas. Yaitu memutus rantai ilegalitas dan persekongkolan, serta kembali menegakkan struktur keadilan yang dapat dipercaya rakyat. Dan awalnya justru terletak pada menatap langsung masalah struktural ini dan negara mengambil tindakan nyata.
[Baca artikel selengkapnya]
한국법률일보 - [Opini] Struktur penerimaan perkara ilegal yang merusak kepercayaan yudisial, kini saatnya negara turun tangan (kunjungi)
비욘드포스트 - Struktur penerimaan perkara ilegal yang merusak kepercayaan yudisial, kini saatnya negara turun tangan (kunjungi)Semua bidang Sekilas pandang
1/0
Reservasi Konsultasi Kunjungan
Jika ada masalah hukum, konsultasikan dengan pengacara spesialis Litigasi yang melibatkan warga asing di kantor terdekat