Bidang Praktik
Reservasi Konsultasi

2026-05-12
![[기고] 0.418% 음주측정 수치에도 운전면허취소처분 취소… 합리적 판결](/_next/image?url=https%3A%2F%2Fd1tgonli21s4df.cloudfront.net%2Fupload%2Fboard%2Fbroadcast%2F20260512073134962.webp&w=3840&q=100)
Pengacara Firma Hukum Daeryun Kim Min-su
Undang-Undang Lalu Lintas Jalan Korea Selatan menetapkan kadar alkohol dalam darah 0,08% ke atas sebagai kriteria pencabutan SIM. Apabila dalam proses razia mengemudi dalam keadaan mabuk diketahui angka yang lebih tinggi dari ini, sebagian besar menilai hasilnya tidak dapat diubah lalu menyerah. Namun, pencabutan SIM tidak ditentukan hanya dengan angka mekanis. Sebab sanksi administratif mengharuskan fakta yang menjadi premisnya ditopang oleh bukti objektif. Belakangan, Pengadilan Distrik Incheon menjatuhkan putusan wajar yang menegaskan kembali logika hukum seperti ini.
Klien terjaring razia alkohol saat mengemudi sepeda motor, dan kadar alkohol dalam darahnya 0,418%. Ini adalah angka yang melampaui 5 kali lipat kriteria pencabutan SIM, tingkat berbahaya yang disertai penurunan kesadaran atau kesulitan bernapas. Berdasarkan hal itu, polisi mencabut SIM. Klien mengajukan banding administratif terpisah dari perkara pidana tetapi juga ditolak, lalu mengajukan gugatan administratif.
Para pengacara penanggung jawab yang menangani gugatan memahami situasi saat itu dengan memeriksa CCTV kala itu. Klien mengemudi sambil menaati lampu lalu lintas, dan tampak pula sedang mengendalikan setir untuk menghindari taksi yang tiba-tiba muncul di persimpangan. Ada pula keadaan yang jauh dari kondisi mabuk berat, seperti bercakap dengan jelas dengan polisi yang datang setelah penindakan alkohol. Berdasarkan hal ini, para pengacara penanggung jawab menekankan bahwa angka pengukuran alkohol tidak sesuai dengan kondisi nyata saat itu.
Hasilnya, pengadilan memenangkan klien melalui putusan yang membatalkan sanksi pencabutan SIM. Ini adalah hasil menelaah secara menyeluruh kontradiksi antara angka pengukuran alkohol dan keadaan nyata saat itu. Pengadilan memandang bahwa dengan bukti yang diserahkan saja tidak ada bukti yang layak diakui bahwa klien mengemudikan kendaraan dalam kondisi mabuk 0,08% ke atas. Ini adalah kasus yang menegaskan bahwa semakin berat suatu sanksi administratif, semakin harus berdasarkan data objektif dan prosedur yang sah.
Secara praktis, banyak kasus menyerah menghadapi perkara hanya karena alasan angka razia alkohol keluar tinggi. Namun, ketidaksesuaian yang nyata antara angka pengukuran alkohol yang mekanis dan kondisi mengemudi yang nyata menjadi dasar menentukan yang meruntuhkan keterpercayaan hasil. Oleh karena itu, yang terpenting adalah dengan cepat mengamankan data objektif yang dapat membuktikan kondisi nyata, seperti dashcam yang memuat rute berkendara saat razia, CCTV sekitar, atau isi percakapan dengan polisi. Jika tidak terperosok dalam tekanan yang diberikan angka pengukuran alkohol dan dapat membuktikan secara hukum kesenjangan antara kebenaran substansial dan data, seseorang dapat dipulihkan bahkan dari sanksi kejam berupa pencabutan SIM.
Terutama, sanksi pencabutan SIM banyak yang berkaitan langsung dengan penghidupan. Oleh karena itu, apabila ada keadaan yang tidak adil, alih-alih memastikan “angka sudah keluar jadi sudah selesai”, harus lebih dahulu ada upaya menyusun ulang secara cermat keadaan objektif bersama ahli hukum untuk mengungkap kebenaran substansial.
● Kontribusi penulis eksternal dapat berbeda dari arah redaksi media ini.
Kyeonggi Ilbo webmaster@kyeonggi.com
[Baca artikel selengkapnya]
[Opini] Meski angka pengukuran alkohol 0,418%, sanksi pencabutan SIM dibatalkan… putusan yang wajar (kunjungi)
Semua bidang Sekilas pandang
1/0
Reservasi Konsultasi Kunjungan
Jika ada masalah hukum, konsultasikan dengan pengacara spesialis Litigasi yang melibatkan warga asing di kantor terdekat